Transplantasi hati akhir-akhir ini menjadi topik perbincangan hangat di masyarakat seiring dengan meningkatnya kasus penyakit Hepatitis serta banyaknya yang berakhir dengan gagal hati. Dari data yang tertuang di laman depkes.go.id tahun 2011, ada kurang lebih 2 miliar penduduk dunia pernah menderita Hepatitis B. Dari jumlah tersebut, 350 juta di antaranya menderita Hepatitis kronik dan sekitar 170 juta orang di dunia meninggal akibat Hepatitis C. Penyakit Hepatitis, baik B maupun C, jika tak ditangani dan ditanggulangi dengan baik meningkatkan peluang terkena sirosis hati (pengerasan organ hati), gagal hati, dan kanker hati. Solusi memang telah tersedia untuk mengatasi penderita yang sudah terlanjur mengalami gagal hati, yaitu dengan transplantasi hati, namun tetap perlu diperhitungkan biaya transplantasi hati.

Pengalaman Sakit yang Tak Menyenangkan

Transplantasi hati dahulu menjadi momok yang menakutkan, apalagi bila dilakukan kepada orang-orang dewasa. Berikut sedikit penggambaran tentang Hati, Pengertiannya merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting bagi tubuh sebagai penetralisir racun yang sistem kerjanya dimulai pukul 2 dini hari hingga pukul 4 dini hari. Ketika tubuh dalam keadaan tidur pulas organ penatrilisir racun ini bekerja dengan maksimal. Hati mempunyai nama ilmiah dengan sebutan Hepar atau bisa juga disebut liver.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya setiap organ tubuh kita mempunyai batasan kemampuan fungsi. Beberapa hal diantaranya bisa disebabkan oleh faktor usia, pola hidup yang tidak sehat, atau bisa jadi karena penyakit bawaan sejak lahir. Seperti saya pribadi juga pernah merasakan penyakit hati Hepatitis hingga berujung pada diagnosa batu empedu, dalam hal ini saya seperti beruntung masih tertolong  pada tingkat kegagalan pada empedu yang memang berhubungan dengan organ hati sebagai pembantu penetralisir racun. Diagnosa penyakit batu empedu yang saya derita berujung pada operasi pengangkatan organ empedu dan Alhamdulillah tertolonglah saya.

Tidak semua penyakit yang diderita itu sama, kasus yang terjadi beragam awal-muasalnya. Dalam kasus penyakit saya yang tentunya berhubungan dengan penyakit Liver atau Hati ini, masih dalam tahap diketahui sejak dini sehingga tidak perlu penanganan transplantasi hati.

Dr. dr. Toar J.M Lalisang, SpB(K) BD Departemen Medik dan Ilmu Bedah
Transplantasi Hati – Dr. dr. Toar J.M Lalisang, SpB(K) BD Departemen Medik dan Ilmu Bedah

Apa Itu Gagal Hati dan Penyebabnya?

Gagal hati adalah nama lain dari sirosis hati, yaitu kondisi kerusakan hati. Kerusakan ini terjadi pada sel-sel hapatosis di hati yang berubah menjadi jaringan parut hingga membuat hati mengeras dan darah tak bisa mengalir lancar masuk ke hati. Akibatnya tentu saja aliran darah di seluruh tubuh pun ikut terganggu. Untuk diketahui, sel-sel hapatosis di hati berfungsi menetralkan racun, mengatur metabolisme hormon, dan membentuk protein serta zat pembekuan darah.

Apa sih penyebab gagal hati?

Ada cukup banyak penyebab yang bisa membuat kita mengalami gagal hati. Dari pengalaman saya ketika mendapatkan diagnosis hepatitis beberapa waktu lalu (dan untungnya bukan) saya menyimpulkan akibat pola hidup dan pola konsumsi yang kurang sehat pun bisa saja membuat siapa pun yang awalnya sehat jadi tertular hepatitis. Salah satu tenaga medis yang merawat saya pernah mengatakan, infeksi virus hepatitis bisa menular melalui peralatan makan yang kita gunakan. Artinya jika alat makan tersebut pernah digunakan oleh penderita hepatitis, lalu tak dicuci bersih, maka bisa menular pada orang yang menggunakan alat makan tersebut berikutnya. Keracunan zat makanan yang mengandung metal, konsumsi alkohol jangka panjang, infeksi parasit, seperti schistosoma, serta perlemakan hati juga bisa menjadi penyebab terjadinya gagal hati.

Adakah Gejala Penyakit Gagal Hati?

Dari banyak referensi yang saya dapatkan melalui berbagai jurnal dan artikel kesehatan, disebutkan bahwa gejala gagal hati hampir tak menunjukkan gejala khusus pada tahap awal. Kondisi cepat lelah atau napsu makan berkurang memang ada disebutkan, namun biasanya ini akan dianggap sebagai kondisi tubuh sedang tak sehat saja akibat tingginya aktivitas dan akhirnya banyak yang mengabaikannya. Tapi di tahap selanjutnya, ketika sel-sel hepatosis pada hati mengalami kerusakan yang semakin parah maka gejala mulai timbul perlahan, seperti:

  1. Air seni berubah warna lebih pekat seperti teh, tubuh dan mata terlihat kuning, sering mengalami gatal-gatal di bagian tubuh karena metabolisme bilirubin terganggu.
  2. Gusi sering berdarah.
  3. Pendarahan di saluran pencernaan karena hati tak bisa memproduksi zat pembekuan darah (ini diketahui setelah melakukan pemeriksaan).
  4. Tubuh dan tungkai kaki bengkak akibat hati tak bisa memproduksi protein lagi.
  5. Feses berwarna hitam, muntah darah, mudah lelah, napsu makan turun, berat badan turun drastis, atau rambut rontok.
  6. Nyeri dan bengkak pada bagian perut atas kanan.
  7. Perut buncit, sering mual dan muntah.
  8. Gangguan kesadaran.
Transplantasi Hati - Pendonor dan Resipien Pasien Anak
Transplantasi Hati – Pendonor dan Resipien Pasien Anak

Pengobatan Gagal Hati dengan Transplantasi Hati di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

Saat ini bagi penderita penyakit gagal hati yang pada terapi tahap lanjutnya gagal, dapat di lakukan penanganan transplantasi hati dengan tingkat kesuksesan yang sangat besar. Transplantasi hati mulai ada sejak tahun 1963, lalu pengerjaan donor hidup dari transplantasi hati ini mulai ada dari tahun 1988. Transplantasi hati yang ada di Indonesia saat ini hanya menerima dari donor hidup, karena hati sifatnya bisa berkembang, sehingga sang pendonor tidak harus memberikan semua hatinya, hanya sedikit lalu dicangkokkan ke penerima hati (resipien).

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengadaptasi transplantasi hati ini sejak tahun 2010 dimana pada saat itu sukses menyembuhkan 1 pasien dewasa dan 1 pasien anak, perkembangannya memang agak melambat hingga tahun 2014 karena terbentur masalah medis dan pendonor, per tahunnya RSCM hanya bisa mengerjakan transplantasi hati untuk 1 atau 2 pasien saja. Tetapi ketika memasuki tahun 2015 hingga sekarang, perkembangan transplantasi hati sangat pesat. Transplantasi hati bisa dikerjakan rata-rata 8 sampai 14 pasien per tahun. 6 pasien dewasa dan 41 pasien anak telah berhasil transplantasi hati, dari 47 pasien tersebut persentase hidup setelah operasi adalah 87%.

Press Conference Tranplantasi Hati di RSCM Jakarta, 7 Mei 2018 diadakan guna memberikan informasi kepada masyarakat ramai bahwasanya penyakit hati bukan lagi momok yang menakutkan. RSCM sudah dapat memberikan penanganan ini dan tak perlu harus ke luar negeri. Hadir para pembicara ahli yaitu :

  • Dr. Sastiono, SpB, SpBA.
  • Dr. dr. Toar J.M Lalisang, SpB(K) BD.
  • Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD-KGEH.
  • Dr. Ratna D Restuti, Sp.THT-KL(K).
  • Serta hadir pula para Pasien serta Pendonor hati yang pernah ditangani di RSCM Jakarta.
Transplantasi Hati - Dr. Ratna D Restuti, Sp.THT-KL(K) Direktur Medik dan Keperawatan
Transplantasi Hati – Dr. Ratna D Restuti, Sp.THT-KL(K) Direktur Medik dan Keperawatan

Menurut pembicara ahli, syarat-syarat untuk menjadi pendonor hati adalah:

  1. Pendonor berusia 18- 60 tahun.
  2. Ada hubungan darah dengan pasien atau penerima hati (resepien).
  3. Ada hubungan marital (pernikahan).
  4. Calon pendonor lulus Screening dari Rumah sakit.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Skretariat Transplantasi Hati FKUI/RSCM

email: th_rscm@yahoo.com

HP/WA: 0857-1000-1094 (cp. Dara)

 

 

LEAVE A REPLY

SIlakan ketik komentarmu
Silakan Masukkan namamu disini