Kenapa kita perlu kenali gejala, penyebab, dan pengobatan Tuberkulosis, atau yang lebih dikenal dengan penyakit TB? Di Indonesia, penyakit ini masih menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat, namun belum benar-benar diobati secara tuntas, sehingga penyebaran terus terjadi tanpa disadari.

Dari Data WHO tahun 2017, telah ditemukan kurang lebih 1.020.000 kasus TB di Indonesia. Di luar angka ini, masih banyak kasus yang belum terdeteksi akibat kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih kurang berkaitan dengan penyakit ini, keengganan berobat hingga sembuh total, bahkan banyak pula yang tidak tahu mengenai penyakit ini sehingga ketika tertular pun mereka tidak berpikir kalau telah terkena penyakit Tuberkulosis.

Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Tuberkulosis (9)
Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Tuberkulosis, sumber: kemenkes RI

Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Tuberkulosis

Mengingat masih banyak masyarakat yang belum mengetahui penyakit Tuberkulosis, Kemenkes RI menggandeng banyak pihak, termasuk media dan para blogger untuk mengkampanyekan mengenai penyakit ini. Harapannya agar masyarakat lebih mengenali penyakit Tuberkulosis, tahu gejala dan penyebabnya, kemudian mampu mengambil tindakan sesegera mungkin untuk mengobatinya.

Pada 19 Maret 2018 lalu, saya bersama teman-teman dari Blogger Crony Community (BCC) berkesempatan hadir di acara Workshop Blogger dalam Rangka Hari Tuberkulosis Sedunia yang diselenggarakan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI. Dalam acara ini hadir sebagai narasumber, antara lain: Dr. Anung Sugihantono, M.Kes (Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI), Pak Edi Junaedi (mantan penderita TB yang telah sembuh), dan Dr. Pandu Riyono.

Dr. Anung Sugihantono, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI. dokpri
Dr. Anung Sugihantono, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI. dokpri

Dr. Anung Sugihantono, M.Kes menjadi pembicara pertama yang mengulas secara lengkap mengenai penyakit Tuberkulosis. Penyakit yang ditemukan oleh Robert Koch pada 24 Maret 1882 ini merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman TB (Mycobacterium tuberkulosis). Siapa pun bisa terkena penyakit ini, terutama orang-orang berusia produktif, antara 15 – 50 tahun, dan tidak menutup kemungkinan anak-anak pun bisa terkena. Sebabnya sudah jelas, penularan penyakit ini berlangsung melalui udara (berbicara dengan orang yang punya bakteri TB di dalam tubuhnya, batuk, atau bersin). Jadi kalau di sekitar kita ada penderita TB, maka risiko tertular sudah pasti ada.

 

Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Tuberkulosis
Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Tuberkulosis. sumber: kemenkes RI

 Penyebab Penyakit Tuberkulosis

Penyebabnya telah saya sebutkan sebelumnya, namun tak ada salahnya kita ulangi lagi ya. Jadi, penyakit ini disebabkan oleh bakteri atau kuman TBC yang bernama Mycobacterium tuberkulosis, yang ditularkan melalui udara ketika penderita TB aktif batuk, berbicara, tertawa, atau bersin. Bakteri ini dapat bertahan di ruang tertutup, gelap, dan lembab hingga beberapa jam bahkan hingga bulanan. Jika seseorang sudah terkena kuman ini, lalu tinggal di dalam rumah yang sirkulasi udaranya buruk serta jarang terkena sinar matahari, maka kuman bisa bertahan lama di dalam rumah tersebut. Akibatnya, penghuni lain yang tinggal di rumah yang sama rentan tertular pula.

 

dr. Pandu Riono, Komisi Ahli TB (dok. pri)
(kanan) dr. Pandu Riono, Komisi Ahli TB (dok. pri)

Gejala Penyakit Tuberkulosis (TB)

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai dan harus segera memeriksakan diri, antara lain:

  • Batuk (berdahak maupun tidak).
  • Demam meriang.
  • Batuk berdahak bercampur darah.
  • Nyeri dada.
  • Napsu makan menurun.
  • Berkeringat tanpa sebab terutama pada sore dan malam hari.
  • Berat badan turun.

Pemeriksaan dan Pengobatan Tuberkulosis

Jika mendapati gejala penyakit Tuberkulosis, alangkah lebih baiknya segera memeriksakan diri. Semakin cepat kita melakukan pemeriksaan, maka akan semakin cepat pula proses penyembuhannya. Pemeriksaan untuk mengetahui apakah kita terkena penyakit ini bisa dilakukan dengan beberapa cara:

  • Pemeriksaan microskopis.

Cara pemeriksaan ini telah dilakukan sejak 120 tahun yang lalu. Pemeriksaannya cukup lama karena memakan waktu 2 hari dengan mengambil 2 spesimen dahak.

  • Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler.

Pemeriksaan dengan Tes Cepat Molekuler adalah pemeriksaan secara modern yang telah mulai digunakan sejak tahun 2012 dan waktu pemeriksaan yang dibutuhkan hanya sekitar 90 menit. Dengan melakukan pemeriksaan cara ini, kita juga bisa mengetahui apakah kita resistensi obat rifampisin atau tidak.

  • Kultur
  • Rontgen

Seperti yang pernah dialami Pak Edi Junaedi, pengobatan TB harus dilakukan hingga tuntas karena jika tidak maka kemungkinan untuk terserang penyakit ini bisa terjadi lagi. Pak Edi pernah sakit, melakukan pengobatan yang tak tuntas, kemudian terkena penyakit TB lagi. Akibatnya proses penyembuhan menjadi lebih lama, yaitu sekitar 2 tahun. Biaya pengobatan pun menjadi bengkak, bahkan bisa mencapai 200 kali lipat. Selain itu, karena merasa sudah sembuh (padahal belum), penderita akhirnya menularkan penyakit Tuberkulosis pada orang-orang di sekitarnya. Lebih mengerikan lagi, merasa sudah sembuh, akhirnya terkena lagi dengan kondisi yang menjadi lebih parah karena telah resistan terhadap obat, maka risiko kematian menjadi semakin tinggi.

Pak Edi Junaedi
Pak Edi Junaedi, mantan penderita TBC sedang menunjukkan sertifikat sembuh total dari penyakit TBC. dokpri

Oleh karena itu, ketika telah melakukan pemeriksaan dan terdiagnosis menderita Tuberkulosis, lakukan pengobatan sesuai dengan ketentuan:

  • Tahap awal.

Tahap awal dilakukan setiap hari (konsumsi obat tentu saja), selama 2-3 bulan.

  • Tahap lanjutan.

Minum obat secara rutin dengan dosis yang dianjurkan sebanyak 3x seminggu dan dilakukan selama 4-5 bulan.

Yuk kita kenali gejala, penyebab, dan pengobatan Tuberkulosis, untuk diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Pemerintah dan Kementerian Kesehatan RI memang berupaya keras membantu masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan sehat, namun jika tidak kita dukung dengan upaya kita sendiri, tentu segala kerja keras itu akan sia-sia. Jika ingin terjadi perubahan besar, mulailah dari diri kita sendiri dulu, kemudian ajak orang-orang di sekitar kita untuk melakukan hal yang sama. Otomatis kelak masyarakat yang sehat dan bebas Tuberkulosis bisa benar-benat terwujud.

Bersama Blogger
Bersama Blogger (dok. Wardah Fajri)

11 Komentar-komentar

  1. Dulu awalnya mama aku juga hanya batuk biasa tapi ternyata kena TB, alhamdulillah nya sekarang sudah sembuh dengan minum obat selama 6bulan.

  2. Motivasi pasien TB untuk sembuh harus kuat supaya bisa sembuh secara total. Bagus juga ya pasien yang sembuh mendapat sertifikat dari rumah sakit.

LEAVE A REPLY

SIlakan ketik komentarmu
Silakan Masukkan namamu disini