Hormati perbedaan dan bersatu dalam menjaga NKRI. Sound familiar dengan kalimat ini? Jelas saja. Akhir-akhir ini gaung mengenai menghormati perbedaan, saling bertoleransi, demi bersatu dalam menjaga NKRI terdengar di mana-mana seiring banyaknya pemberitaan dan konten negatif yang berupaya untuk memecah belah persatuan bangsa kita

Beragam berita hoax bisa ditemukan dengan mudah di dunia maya, baik yang mengulas mengenai dunia politik, pemerintahan, ekonomi, bahkan kehidupan para artis dan tokoh terkenal di dunia infotainment. Saya benar-benar hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat fakta yang begitu banyak terjadi di sekitar saya.

Gara-gara membaca berita hoax yang berunsur memecah belah dan kebenarannya masih diragukan, pertemanan dan persaudaraan seseorang dengan orang lainnya ikut terpecah. Ini sangat disayangkan. Padahal, berbeda itu indah. Hormati perbedaan itu tidaklah susah. Tinggal bangun saja toleransi antar sesama. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan melulu pajangan yang tertulis di pita yang terdapat di lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Tokoh Lintas Agama - Hormati Perbedaan dan Bersatu Dalam Menjaga NKRI
Tokoh Lintas Agama – Hormati Perbedaan dan Bersatu Dalam Menjaga NKRI

Pelajaran Tentang Hormati Perbedaan dan Toleransi Demi Bersatu Dalam Menjaga NKRI

Saya lahir di keluarga muslim dengan kedua orangtua yang begitu memegang ajaran islami dalam kehidupan sehari-hari. Masa kecil hingga masa remaja saya habiskan di kampung Betawi di daerah Rawa Buaya, Jakarta. Meski terkenal dengan sebutan kampung Betawi, tetap saja ada banyak lagi masyarakat dari berbagai suku dan agama, mulai dari Betawi, Jawa, Batak, bahkan ada pula tetangga yang China. Dari yang beragama Islam, Hindu, Budha, Kristen, juga Katolik. Semua hidup rukun dan guyup. Anak-anak bermain bersama setiap sore. Para orangtua berteman dan saling membantu ketika ada perayaan keagamaan maupun ketika ada yang sedang dilanda kemalangan.

Kehidupan dalam keberagaman dengan mengedepankan saling hormati perbedaan, saling bertoleransi dalam keberagaman, demi bersatu dalam menjaga NKRI tertanam kuat dalam hati saya. Saya bahagia bisa berada dalam lingkungan yang saling menjaga. Dan perasaan ini terus tumbuh hingga saya dewasa.

Lalu saya bertemu pujaan hati. Ketika tahu dia China, saya sempat berpikir untuk mundur. Wah, bakal ribet nih dunia persilatan kalau saya sampai menikahinya secara agama, latar belakang keluarga, ekonomi, dan budaya kami berbeda. Waktu itu, 17 tahun lalu, saya ingat dengan jelas kalimat yang saya ucapkan padanya, “Sepertinya kita susah untuk bersama. Kita berbeda.”

Mau tahu jawabannya apa? Katanya, “Iya, kita berbeda. Kamu Jawa, saya China. Kamu Islam, saya Katolik. Lalu kenapa? Apa perbedaan harus jadi masalah untuk hidup bersama? Apa latar belakang suku dan budaya tak bisa membuat orang hidup rukun, saling toleransi, apalagi sampai membangun rumah tangga?”

Saya yang masih ragu akhirnya hanya menjawab, “Bisa sih, tapi jalannya pasti sulit.”

“Tahu dari mana kamu kalau jalannya pasti sulit, belum juga dijalani. Berbeda itu indah. Mana ada sih Tuhan menciptakan manusia yang sama persis. Kita tinggal saling hormati perbedaan saja, saling bertoleransi, dan saling belajar. Keberagaman akan memperkaya hidup, wawasan, dan pengetahuan.”

Kalimat akhir yang dia ucapkan ini seakan “menampar” saya yang selama ini mengaku-ngaku menjunjung keberagaman dan toleransi. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda agar saling melengkapi. Agama, budaya, pengetahuan yang berbeda seharusnya membuat setiap orang saling belajar dan bekerja sama dalam kebaikan untuk membangun kehidupan jadi lebih baik lagi. Perbedaan tidak seharusnya dijadikan ‘alat’ untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, apa pun tujuannya!

Hingga hari ini, setelah 17 tahun, kami tetap bersama. Ada banyak sekali perbedaan di antara kami terkait budaya, cara hidup sehari-hari, ritual-ritual yang masih ada dalam keluarganya (ngomong-ngomong istri saya China keturunan Dayak sehingga adat kebudayaan China yang telah berpadu dengan adat dan kebudayaan Dayak masih sangat kental dalam keluarga mereka), juga budaya dan kebiasaan keluarga saya yang Jawa, sama sekali tak pernah jadi masalah. Keduanya berjalan selaras, harmonis, saling melengkapi, memperkaya kehidupan kami berdua. Saat Natal, keluarga muslim saya akan berkunjung, begitu pula sebaliknya. Ketika Lebaran, keluarga yang bukan beragama Islam akan hadir dan turut merayakan hari kemenangan bersama kami.

Thank you, God, sudah mempertemukan saya dengan perempuan “berbeda” dalam banyak hal dengan saya, yang hingga hari ini masih tegar mendampingi saya menjalani kehidupan.

Silaturahmi Kapolda Metro Jaya Bersama Wartawan dan Netizen Bersatu Dalam Menjaga NKRI

Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol. Drs. Purwadi Arianto
Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol. Drs. Purwadi Arianto

Pada 6 Juni 2018 lalu, saya mendapat undangan acara Silaturahmi Kapolda Metro Jaya Bersama wartawan dan netizen. Acara ini diselenggarakan di Gedung promoter Polda Metro Jaya, Jakara. Ada banyak tokoh yang hadir termasuk tokoh lintas agama, seperti H. Muhammad Ali, Pendeta Datulon Sembiring, Biksu Syailendra Virya, Romo RD. Aloysius Tri Harjono, dan Pedande Gede Nyeneng.

Undangan telah hadir semua dan tak lama kemudian acara pun dimulai. Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol. Drs. Purwadi Arianto menjadi orang pertama yang memberi sambutan. Beliau mengungkapkan bahwa keutuhan NKRI adalah harga mati dan tidak bisa ditawar lagi. Jangan mau diadu domba dengan konten berita hoax atau pemberitaan lain yang lebih mengangkat perbedaan ketimbang menjunjung persatuan bangsa. Bentengi diri dari upaya oknum-oknum yang ingin memecah belah keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia.

Beliau juga menyampaikan harapan kepada semua komponen masyarakat untuk turut membantu penyebaran informasi positif, menguatkan sikap saling hormati perbedaan dan bertoleransi antar sesama demi bersatu dalam menjaga NKRI.

“Di bulan yang baik ini, mari kita bersama-sama membangun toleransi, saling hargai perbedaan, saling menghormati antara pihak yang satu dengan yang lainnya, dan tetap bersatu dalam menjaga NKRI. Diharapkan pula agar media massa dan media sosial, baik para jurnalis, blogger, vlogger, netizen ikut menyajikan berita positif yang menyejukkan #sebarkanberitabaik #hormatiperbedaan.”

Tokoh Lintas Agama bersama Wakapolda
Tokoh Lintas Agama bersama Wakapolda

Acara selanjutnya, para tokoh lintas agama yang hadir juga melakukan pembacaan komitmen atau pernyataan untuk bersama-sama bersatu dalam menjaga NKRI. Pembacaan komitmen untuk saling hormati perbedaan ini diwakili oleh Pendeta Datulon Sembiring, Biksu Syailendra, Romo RD. Aloysius Tri Harjono, Pedande I Gede Nyenengin, dan H. Muhammad Ali, serta Kapolda Metro Jaya yang diwakili oleh Wakapolda.

Tokoh Lintas Agama bersama Wakapolda
Tokoh Lintas Agama bersama Wakapolda

Lomba #SebarkanBerita Baik

Oh ya, pada acara ini saya juga mendapat informasi mengenai adanya blog, vlog, dan media sosial bertema “Bersatu dalam Menjaga NKRI” yang diselenggarakan Polda Metro Jaya. Lomba ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menyajikan lebih banyak lagi konten positif di media sosial demi menangkal segala bentuk informasi negatif dan penyebaran berita hoax.

A post shared by Humas.PMJ (@humas.pmj) on

Informasi lengkap lombanya bisa dilihat di akun media sosial Polda Metro Jaya.

Mari jadi netizen yang cerdas, bijak, dan tak gampang diadu domba dengan berita hoax. Mari saling hormati perbedaan, saling toleransi, menjaga kerukunan hidup dalam bermasyarakat, dan bersatu dalam menjaga NKRI.

LEAVE A REPLY

SIlakan ketik komentarmu
Silakan Masukkan namamu disini